PERSONIL BPP GADING

Senin, 31 Desember 2012

TEKNIK EKSTRAKSI DAN APLIKASI BEBERAPA PESTISIDA NABATI UNTUK MENURUNKAN PALATABILITAS ULAT GRAYAK



TEKNIK EKSTRAKSI DAN APLIKASI BEBERAPA PESTISIDA NABATI UNTUK MENURUNKAN PALATABILITAS
                                                               ULAT GRAYAK 
 Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
BPP KECAMATAN GADING



Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas tanam   an pangan yang memiliki arti penting bagi sebagianbesar masyarakat Indonesia. Kedelai merupakan salah satu bahan pangan sumber protein nabati. Kedelai biasanya diolah menjadi berbagai produk makanan seperti tempe, tahu, tauco, kecap, dan susu.
Kebutuhan bahan baku industri pengolahan kedelai seperti tempe, tahu maupun kecap, sebagian besar masih dipenuhi dari impor. Impor kedelai pada tahun 2005 mencapai 1,3 juta ton (Sudaryanto dan Swastika 2007). Selain dalam bentuk biji kedelai, impor bungkil kedelai juga masih tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri makanan ternak (Kasryno et al. 1985). Untuk itu, produktivitas kedelai di dalam negeri perlu ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat maupun industri makanan ternak.
Budi daya kedelai menghadapi beberapa kendala sehingga produktivitas tanaman rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil kedelai di Indonesia ialah serangan hama (Sumarno dan Harnoto 1983). Hama penting pada kedelai antara lain adalah ulat grayak (Spodoptera      litura F.).

Dalam mengendalikan ulat grayak, umumnya petani menggunakan insektisida sintetis karena lebih efektif, cepat diketahui hasilnya, dan penerapannya relatif mudah. Namun, penggunaan insektisida sintetis dapat menimbulkan pengaruh samping yang merugikan, seperti timbulnya resistensi pada hama sasaran, resurjensi hama utama, eksplosi hama sekunder, dan terjadinya pencemaran lingkungan (Oka 1995). Karena itu, perlu dikembangkan metode pengendalian yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Penggunaan insektisida nabati merupakan alternatif untuk mengendalikan serangga hama. Insektisida nabati relatif mudah didapat, aman terhadap hewan bukan sasaran, dan mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan pengaruh samping (Kardinan 2002). Maryani (1995) mengemukakan bahwa biji sirsak mengandung bioaktif asetogenin yang bersifat insektisidal dan penghambat makan (anti-feedant). Buah mentah, biji, daun, dan akar sirsak mengandung senyawa kimia annonain yang dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, penolak serangga (repellent), dan anti-feedant dengan cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut (Kardinan 2002). Kardono et al. (2003) mengemukakan bahwa ekstrak daun babadotan mengandung insektisida yang efektif untuk membunuh Sytophilus zeamays dengan LD50 sebesar 0,09% dalam 24 jam. Biji saga yang diekstrak dengan air atau aseton dapat bersifat sebagai racun perut bagi serangga, sedangkan tepung bijinya yang diaplikasikan pada tepung terigu dengan konsentrasi 5% mampu mengendalikan hama gudang Sitophilus sp. selama tiga bulan (Iskandar dan Kardinan 1995).Kardinan dan Iskandar (1997) mengemukakan bahwa larutan daun sembung dalam air dengan konsentrasi 1% yang ditambah 0,10% detergen cair (teepol) menyebabkan  kematian populasi keong mas (Pomacea canaliculata) lebih dari 50%. Ekstrak daun melinjo (Gnetum gnemon) dapat mempengaruhi perilaku makan ulat grayak (Heviandri 1989).
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui teknik ekstraksi dan aplikasi beberapa jenis pestisida nabati untuk menurunkan palatabilitas ulat grayak di laboratorium.Percobaan dilaksanakan pada bulan Februari-April 2006 di laboratorium biopestisida, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor. Bahan-bahan yang digunakan antara lain adalah tanaman kedelai varietas Burangrang yang berumur 28-35 hari setelah tanam (HST), ulat grayak instar 3 yang diperoleh dari hasil pembiakan di laboratorium, biji dan daun sirsak, daun dan bunga babadotan, biji saga, daun sembung, daun melinjo, pupuk NPK (urea, TSP, dan KCl), akuades, dan metanol. Alat yang digunakan meliputi gelas piala, gelas ukur, pot plastik, kotak plastik, homogenizer (blender), sentrifus, freezer dryer, dan pipet. Sebagai ilustrasi dapat dilihat perkembangan ulat grayak (Gambar 1) dan beberapa jenis tanaman yang berpotensi sebagai bahan pestisida nabati (Gambar 2).



 


 

Gambar 2. Beberapa jenis tanaman yang berpotensi sebagai bahan pestisida nabati, laboratorium BB Biogen, Bogor, 2006



Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor A adalah jenis pelarut yang terdiri atas dua faktor, yaitu pelarut air dan metanol, dan faktor B adalah jenis ekstrak nabati yang terdiri atas delapan faktor, yaitu: (1) ekstrak biji sirsak (BSr), (2) ekstrak daun sirsak (DSr), (3) ekstrak daun babadotan (DBd), (4) ekstrak bunga babadotan (BBd), (5) ekstrak biji saga (BSg), (6) ekstrak daun sembung (DSb), (7)  ekstrak daun melinjo (DMl), dan (8) kontrol (K). Percobaan diulang tiga kali.
Pembuatan ekstrak bahan nabati dengan pelarut metanol dan air serta aplikasinya dilakukan dengan cara sebagai berikut:
• Pembuatan ekstrak bahan nabati dengan pelarut metanol. Bahan nabati segar sebanyak 25 g dicincang kemudian diekstrak dengan pelarut metanol p.a sebanyak 100 ml selama 15 menit. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan blender. Hasil ekstraksi disentrifusi selama 20 menit dengan kecepatan 3.000 rpm, kemudian diuapkan menggunakan freezer dryer hingga volume ± 1 ml. Larutan tersebut kemudian diencerkan menggunakan akuades menjadi konsentrasi 5% dan selanjutnya larutan siap digunakan untuk perlakuan.
• Pembuatan ekstrak bahan nabati dengan pelarut air. Bahan nabati segar sebanyak 100 g dicincang kemudian diekstrak dengan pelarut  air dengan perbandingan 1:3. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan homogenizer/ blender selama 15 menit.  Hasil ekstraksi dibiarkan selama 24 jam kemudian disaring menggunakan kain halus dan selanjutnya larutan siap digunakan sebagai perlakuan
• Aplikasi ekstrak bahan nabati. Daun tanaman kedelai yang berumur 28-35 HST sebanyak dua pucuk dicelup ke dalam ekstrak bahan nabati sesuai perlakuan selama 30 detik. Setelah itu, daun  dikeringanginkan dan ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran 14 cm x 14 cm x 5 cm. Selanjutnya daun diinfestasi dengan larva ulat grayak instar 3 sebanyak 10 ekor, lalu kotak plastik ditutup dan diberi ventilasi dengan kain kasa. Keesokan harinya daun tersebut ditimbang, kemudian diganti dengan daun baru yang sudah ditimbang, begitu seterusnya sampai 7 hari setelah aplikasi (HSA). Masingmasing perlakuan diulang tiga kali.
Parameter yang diamati adalah tingkat palatabilitas ulat grayak yang diamati berdasarkan tingkat penurunan persentase aktivitas makan, bobot pakan (daun kedelai) yang habis dimakan serangga uji pada periode 1-7 HSA.
Persentase penurunan aktivitas makan dihitung dengan rumus sebagai berikut (Prijono 1988):

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan pengaruh aplikasi bahan nabati terhadap palatabilitas ulat grayak disajikan pada Tabel 1. Pada pengamatan hari pertama setelah aplikasi (1 HSA), palatabilitas larva ulat grayak dari semua perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol. Larva ulat grayak yang palatabilitasnya terendah terdapat pada perlakuan BSr-M.  Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi bahan nabati belum berpengaruh terhadap palatabilitas ulat grayak
Pada pengamatan 2 HSA, semua perlakuan menunjukkan penurunan palatabilitas ulat grayak, dengan palatabilitas terendah pada perlakuan DSr-M. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak bahan nabati selain berpengaruh terhadap mortalitas juga mempengaruhi palatabilitas larva ulat grayak. Pada 3 HSA, palatabilitas larva ulat grayak pada hampir semua perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol, palatabilitas terendah pada perlakuan DBd-M. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji sirsak, bunga babadotan, dan daun babadotan dapat menghambat palatabilitas larva ulat grayak atau bersifat anti-feedant (Tabel 1).
Pengamatan pada 4-7 HSA, palatabilitas ulat grayak pada perlakuan bahan nabati yang diekstrak menggunakan pelarut metanol lebih rendah dibandingkan dengan yang diekstrak menggunakan air. Hal ini menunjukkan bahwa pelarut metanol lebih baik dalam menarik senyawa kimia yang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar