PERSONIL BPP GADING

Senin, 31 Desember 2012

PERILAKU TIKUS SAWAH



PERILAKU TIKUS SAWAH
(Rattus argentiventer)



Oleh:
ANANG BUDI PRASETYO,SP
BPP KECAMATAN GADING





                           1. Aktifitas harian

Merupakan hewan nokturnal yang telah beradaptasi dengan fenologi  tanaman padi. Secara rutin, aktifitas harian dimulai senja hari hingga menjelang fajar. Selama periode tersebut, tikus sawah mengeksplorasi  sumber pakan dan air, tempat berlindung, serta mengenali pasangan dan  individu dari kelompok lain. Siang hari dilalui dengan bersembunyi dalam lubang, semak belukar, atau petakan sawah (ketika padi telah rimbun). Selama terdapat tanaman padi, ruang gerak (home range) berkisar 30- 200 m dan teritorial 0,25-1,10ha. Ketika bera dan pakan mulai terbatas, sebagian besar tikus sawah berangsur pindah ke tempat yang menyediakan pakan hingga 0,7-1,0 km atau lebih, seperti pemukiman, gudang benih, penggilingan dll. Pada awal musim tanam, tikus sawah yang berhasil survive kembali ke persawahan. 

        2. Pakan dan perilaku makan

Tergolong hewan omnivora yang mampu memanfaatkan beragam pakan untuk bertahan hidup. Komposisi pakan yang dikonsumsi tergantung kondisi lingkungan dan bervariasi sepanjang stadia tumbuh padi. Meskipun demikian, padi merupakan pakan utama yang paling disukainya. Kebutuhan pakan ±10-15% dari bobot badannya dan minum air ±15-30 ml per hari. Material pakan dalam lambung berupa endosperm padi, bagian pangkal batang padi, serpihan rumput-rumputan, potongan tubuh arthropoda, bagian tanaman dikotil, dan materi lain. Ketika bera pratanam hingga semai padi, tikus sawah mengkonsumsi rumput-rumputan (45%), endosperm (31%), dan yang lain (4-10%). Pada saat padi vegetatif, beragam pakan relatif setara dikonsumsinya (17-25%), sedangkan pada padi generatif pakan berupa endosperm (51%), arthropoda (12%), dan bagian tanaman non-padi (7-18%). Dalam mengkonsumsi pakan, tikus sawah lebih dahulu mencicipi untuk mengetahui reaksi terhadap tubuhnya dan apabila tidak membahayakan akan segera memakannya.

  1. Perilaku reproduksi
Perkembangbiakan tikus sawah sangat tergantung keberadaan tanaman padi. Kondisi aktif reproduksi hanya terjadi pada padi stadia generatif. Selama bera panjang hingga padi vegetatif, tikus sawah dewasa tidak aktif reproduksi. Pada saat tidak aktif, testis tikus sawah kembali masuk dalam rongga perut (testis abdominal), dan akan kembali ke scrotum pada saat musim kawin (testis scrotal). Akses kawin terhadap sejumlah betina dikuasai oleh jantan dominan yang menguasai teritorial tertentu.

  1. Perilaku bersarang
Merupakan hewan terrestrial yang membuat lubang di dalam tanah sebagai tempat tinggal. Lubang yang dihuni tikus disebut “lubang aktif”. Pada saat bera panjang, tikus sawah lebih banyak tinggal di habitat pelarian (refuge area) seperti semak, pekarangan, atau migrasi ke gudang padi. Pada stadia vegetatif padi, lubang aktif berbentuk sederhana dan dangkal, tetapi  menjadi komplek dan bercabang pada stadia generatif padi yang juga merupakan saat berkembang biak tikus sawah. Pada umumnya, lubang aktif berisi tikus betina beserta anak-anak pradewasa. Selama aktif reproduksi, tikus jantan tinggal dalam petak lahan menunggu malam hari untuk kawin dengan betina dalam kelompoknya. 

  1. Perilaku sosial 
Mencakup perilaku menjaga wilayah kekuasaan (territorial) dan tingkatan sosial (hierarkhi). Pada kerapatan populasi rendah hingga sedang, seekor jantan dominan paling berkuasa atas sumber pakan, jalur jalan, lokasi bersarang, dan tikus betina dalam kelompoknya. Pada intensitas populasi tinggi, jantan yang kalah kompetisi (subordinat) keluar mencari wilayah dan membentuk kelompok baru. Perilaku tersebut menyebabkan penyebaran populasi yang merata sehingga tikus sawah mampu mengokupasi wilayah yang luas (terutama di daerah endemik).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar