PERSONIL BPP GADING

Jumat, 28 Desember 2012

BAGAIMANA MENINGKATKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH?



BAGAIMANA MENINGKATKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH?
Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
PPL BPP KECAMATAN TIRIS


Bahan organik tanah terdapat dalam berbagai bentuk: ada yang stabil (lambat lapuk), terikat kuat dengan liat, membentuk agregat tanah yang stabil, dan ada pula yang labil (cepat lapuk) yang strukturnya masih mirip dengan bahan asalnya seperti daun, cabang, akar yang telah mati dan sebagainya. Tanah tertutup hutan sekunder memperoleh masukan rata-rata 10  –12 ton ha-1 th-1 seresah dari daun dan cabang gugur, serta tambahan dari akar yang membusuk.  Untuk tanah-tanah pertanian, bahan organik minimal 8 ton ha-1 harus diberikan setiap tahunnya, untuk mempertahankan jumlah bahan organik yang diinginkan (misalnya, untuk mencapai kondisi bahan organik tanah sekitar 80% dari kondisi hutan alami dengan tekstur tanah yang sama).  

Upaya yang dapat dilakukan petani untuk mencapai kondisi tersebut misalnya:
a) Mempertahankan sisa panenan dalam petak lahan (misalnya padi dan jagung) atau mengembalikan sisa panenan (misalnya kacang tanah), tergantung dari tehnik pemanenannya.  Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam tanah umumnya berkisar 2-5 ton ha-1. Walaupun jumlah ini tidak dapat memenuhi jumlah minimum kebutuhan bahan organik, namun masih tetap menguntungkan daripada tidak sama sekali.  Bila ubikayu yang ditanam, batang harus diangkut keluar petak untuk bibit di musim mendatang sehingga masukan bahan organik hanya berasal dari daun ubikayu yang gugur yaitu sekitar 1 ton ha-1 per tahunnya.
b)    Pemberian pupuk kandang atau sisa dapur yang telah dikomposkan. Karena keterbatasan penyediaan pupuk kandang, pemberian pupuk kompos ini hanya terbatas pada pekarangan di sekitar rumah atau hanya untuk tanaman buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dan bukan untuk lahan pertanian yang letaknya jauh dari rumah.
c)    Pemberian pupuk hijau (Foto 8). Penanaman pupuk hijau hanya mungkin dilakukan untuk jangka pendek setelah panen tanaman pangan. Jika kebutuhan air tercukupi, pangkasan tajuk tanaman penutup tanah dari keluarga kacang-kacangan (LCC: legume cover crops) dapat memberikan masukan bahan organik sebanyak 2-3 ton ha-1 (umur 3 bulan), dan 3-6 ton ha-1 jika dibiarkan selama 6 bulan.  Namun cara ini kurang menguntungkan, karena mahalnya biji tanaman dan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan.  Beberapa jenis yang cukup memberi harapan adalah:
·         Tanaman penutup tanah yang tidak memerlukan tenaga untuk menanam dan tidak memerlukan beaya pembelian biji, karena biji-bijinya dapat tumbuh dengan sendirinya di lapangan (misalnya Callopogonium atau kacang asu), dan yang tidak menjadi gulma bagi tanaman pangan. 
·         Tanaman penutup tanah yang bijinya dapat dimakan (Mucuna pruriens var. utilis atau koro benguk), tetapi masih menghasilkan banyak seresah.
d)         Memanfaatkan seresah (daun yang gugur) dari pepohonan yang ditanam di sekitar petak sebagai pagar pembatas, atau dari tanaman pagar dalam sistem budidaya pagar.  Pada budidaya pagar, masukan bahan organik selain dari seresah yang jatuh juga berasal dari hasil pangkasan cabang dan ranting.  Dengan sistem agroforestri sederhana ini masalah kesuburan tanah dapat diatasi namun masalah lain telah menanti (lihat bab selanjutya).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar