PERSONIL BPP GADING

Selasa, 02 April 2013

MAKALAH PERSAINGAN ANTARA TANAMAN DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN



MAKALAH PERSAINGAN ANTARA TANAMAN DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan utama pembangunan sektor pertanian baik dunia maupun kawasan adalah untuk menaikkan produksi pertanian guna meningkatkan pendapatan petani dan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, khususnya kebutuhan pangan penduduk yang populasinya meningkat dengan cepat. Pada tahun 2000 ini penduduk di dunia diperkirakan mencapai 6,1 milyar dimana tiga perempat dari populasi ini hidup di negara berkembang dan lebih kurang separuhnya hidup di kawasan Asia dan Pasifik. Permintaan akan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup semakin meningkat. Ini berarti diperlukan lahan yang semakin luas, produksi bahan pangan, sandang, dan papan yang semakin meningkat pula (Triharso, 1974).
Salah satu Kendala dalam pembangunan sektor pertanian yang berasal dari faktor biotik adalah adanya gangguan dari OPT yang terdidi atas hama, penyakit, dan gulma. Menurut Triharso (1994) gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah pada pengurangan kuantitas atau kualitas dari hasil yang diharapkan.

B. Rumusan Masalah

Bagian ini berisi pembahasan masalah yang akan di bahas pada BAB II:
1. Pengertian dan Jenis-Jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
2. Akibat Adanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
3. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

C. Tujuan Makalah

Makalah ini disusun untuk mengetahui organisme pengganggu tanaman (OPT) dan mengetahui kerugian-kerugian dan akibat dari tumbuhnya OPT yang membuat petani Indonesia sangat sengsara dengan hasil produksi yang rendah dan merugikan bagi kehidupannya.


BAB II
PEMBAHASAN
1. pengertian dan jenis-jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
OPT adalah mahluk hidup (jasad biotik) yang selalu merupakan faktor pembatas produksi tanaman.
Jenis-jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT):
1.1. Hama (Pests)
1.2. Penyakit (Diseases)
1.3. Gulma (Weeds)
1.4. Patogen

1.1. Hama (pests)

▪ hewan (serangga atau mamalia, tetapi tidak termasuk manusia).
▪ ukurannya nampak oleh mata telanjang.
▪ pengamatan dapat dilakukan terhadap :
     a. gejala (akibat serangan).
b. tubuh hamanya itu sendiri.
▪ kerugiaannya adalah merusak secara mekanis (melubangi, memotong, mengerat, dll.).
▪ sebagian berperan sebagai vektor penular penyebab penyakit.
▪ menyerang dari lapangan sampai ke penyimpanan.
▪ contoh hama adalah :
a. serangga (ulat, lalat, belalang, kutu daun, kumbang, dll.).
b. mamalia (tikus, babi, kelinci, gajah, monyet, dll.).

1.2. Penyakit (Diseases)

  Gangguan pada fungsi fisiologis tanaman yang disebabkan oleh adanya penyebab penyakit (‘patogen’).
  ukurannya mikroskopis (hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop) karena itu disebut sebagai mikroorganisme.
  sebagian lagi berukuran submikroskopis (bahkan tidak dapat dilihat langsung walaupun dengan mikroskop, contohnya Virus, MLO).
  pengamatan hanya dapat dilakukan terhadap ‘gejala’ dan sebagian kecil terhadap ‘tanda’.
  gejala adalah reaksi tanaman terhadap adanya gangguan dari penyebab penyakit. Contohnya : layu, daun menguning, bercak, dll.
  tanda adalah struktur tubuh patogen yang tampak terlihat dengan mata telanjang.

1.3. Gulma (Weeds)
  Gulma adalah tumbuhan pengganggu, yaitu tumbuhan yang keberadaannya di suatu lahan tidak kita inginkan.
  Merugikan tanaman melalui :
a. Kompetisi ruang, cahaya, nutrisi, dan air.
b. Pengeluaran senyawa dari akarnya yang merugikan atau mematikan tanaman.

1.4. Patogen

  patogen terdiri atas:
– jamur /cendawan
– bakteri
– nematoda (cacing mikroskopis)
– virus dan mikoplasma
– BLO dan MLO
  Patogen merugikan tanaman secara fisiologis dengan cara a.l. :
– Merebut nutrisi yang dihasilkan tanaman sehingga tidak tersedia bagi pertumbuhan tanaman.
– Mengganggu atau merusak fungsi organ tanaman sehingga tanaman tidak dapat berfungsi normal.
  Menghalangi penyerapan cahaya matahari sehingga tanaman tidak dapat menyerap cahaya yang dibutuhkan.

2. Akibat Adanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) mengakibatkankan:

     2.1. Gangguan
Gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah kepada pengurangan kuantitas dan kualitas hasil tanaman yang diharapkan. Misalnya: lobang pada daun sebagai akibat dimakan serangga, bercak pada daun sebagai akibat penyakit, pengurangan tumbuh akibat persaingan dengan gulma, kematian jerami hijauan dan pucuk tanaman sebagai akibat adanya embun es, kehilangan klorofil sebagai akibat keracunan limbah industri, kerusakan karena angin puyuh (cabang yang retak, pohon yang tumbang).  Timbulnya gangguan pada tanaman (tanaman inang) sangat bervariasi tergantung pada faktor pendukungnya, seperti lingkungan yang sesuai, inang yang rentan, dan jasad pengganggu yang agresif atau virulen.

2.2. Kerusakan

Kerusakan adalah setiap pengurangan kuantitas atau kualitas hasil yang diharapkan sebagai akibat gangguan. Atau ditinjau dari segi ekonomi, kerusakan tanaman adalah ketidakmampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Sebagai contoh, misalnya: Serangan kumbang penggerek buah kapas (Amorphoidea, sp) dapat menyebabkan buah tersebut gugur sebelum masak. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kuantitas hasil yang diperoleh, walaupun secara kualitas hasilnya bagus.

2.3. Kerugian
Dari segi ekonomi, kerusakan tanaman adalah ketidakmampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Penurunan kualitas hasil tanaman mengakibatkan penurunan nilai jualnya (menurunnya harga jual hasil tersebut). Penurunan kuantitas berakibat pada berkurangnya jumlah hasil yang seharus dijual. Menurunnya nilai jual dan berkurangnya jumlah hasil yang seharusnya dijual akan berpengaruh pada berkurangnya pendapatan yang diperoleh. Berkurangnya pendapatan akan berdampak pada aspek sosial ekonomi. Dampak sosial-ekonomi itulah disebut dengan kerugian.

3. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

▪ Dilakukan setelah OPT terdeteksi
▪ Sering hanya berupa satu cara pengendalian saja, umumnya adalah penggunaan pestisida
▪ Penggunaan pestisidanya pun sering tidak bijaksana : − Tidak sesuai peruntukan
▫ bakteri - Bakterisida (antibiotik)
▫ jamur - fungisida
▫ nematoda & serangga - insektisida
▫ gulma - herbisida
▫ Virus - insektisida digunakan untuk membunuh serangga vektor penularnya (Tidak ada virusida)
− Tidak sesuai dosis dan frekuensi anjuran
− Tidak memperhatikan ada tidaknya OPT (ambang ekonomi dan ambang pengendalian)
− Bahan aktif (faktor terpenting dari suatu pestisida) tidak digilir dengan bahan aktif lain dalam pemakaiannya
Selain pestisida, pengendalian OPT dapat dilakukan dengan berbagai cara :
• Secara fisik:
– Menyiram tanaman untuk menurunkan temperatur
– Menanam pohon pelindung
– Merendam benih/bibit dalam air panas yang sesuai untuk mematikan OPT
– Menambahkan pupuk kandang
• Secara mekanis :
– Mencabut dengan tangan atau menggaruk gulma dengan alat
– Memotong bagian tanaman yang terkena penyakit
– Mengambil ulat yang terlihat pada bagian tanaman
• Secara hayati (biokontrol):
– Mengendalikan gulma dengan serangga atau patogen gulma tersebut
– Mengendalikan penyakit dengan agen biokontrol, misalnya dengan Trichoderma dan Gliocladium
• Secara kultur teknis (teknik bercocok tanam)
– Pergiliran tanaman
– Penggunaan varitas resisten
– Pengaturan jarak tanam
– Penanaman berbagai jenis tanaman di suatu lahan (multiple cropping)


BAB III
KESIMPULAN


          Terjadinya kerusakan pada tanaman yang akhirnya menimbulkan kerugian secara ekonomi (kehilangan hasil) disebabkan oleh adanya gangguan. Gangguan tersebut timbul karena adanya interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan jasad pengganggu atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Organisme pengganggu tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan tumbuhan pengganggu tanaman (gulma). Interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan OPT terjadi yang terjadi dalam ekosistem atau agroekosistem terkadang menimbulkan masalah karena terganggunya keseimbangan komponen-komponen yang menyusun agroekosistem. Ketidakseimbangan agroekosistem tersebut akan mendorong perkembangan organisme tertentu, misalnya hama, dimana populasinya meningkat jauh melebihi ambang kendalinya secara alami, dimana hal ini dapat menimbulkan kerusakan tanaman yang berakibat pada kerugian bagi yang mengusahakannya.

DAFTAR PUSTAKA
1)      Rukmana, R., 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliannya. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 14-17
2)      Anonim. Hama Sains. http://fp.uns.ac.id Arantha.Organisme Pengganggu Tanaman. http://aranthasclubhomevision.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar