PERSONIL BPP GADING

Jumat, 15 Maret 2013

GULMA GULMA




Oleh : Anang Budi Prasetyo,SP




I. PENDAHULUAN

Konsep dan batasan gulma

Gulma merupakan tanaman pengganggu yang kehadirannya tidak diinginkan. Kehadiran gulma ini dinilai merugikan karena secara estetika akan mengganggu keindahan  taman  dan secara  fungsi  akan mengurangi  hara,  pemanfaatan  sinar matahari,  air tanah, dan tempat  tumbuh yang dapat  dimanfaatkan oleh tanaman utama. ( Jumin Hasan Basri. 1987).
Gulma  juga  merupakan  tumbuhan  pengganggu  tanaman  yang  tidak dikehendaki  tumbuhnya  di  areal  persawahan  dan  juga  tumbuhan  pengganggu tanaman pokok yang dapat menurunkan hasil produksi tanaman.
Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan oleh sipenanam sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada di dekat atau disekitar tanaman pokok tersebut (Ashton, 1991). Pendapat para ahli gulma yang lain ada yang mengatakan bahwa gulma disebut juga sebagai tumbuhan pengganggu atau tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya, tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian.
Persaingan antara gulma dengan tanaman yang kita usahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Cramer (1975) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman dalah sebagai berikut : padi 10,8 %; sorgum 17,8 %; jagung 13 %; tebu 15,7 %; coklat 11,9 %; kedelai 13,5 % dan kacang tanah 11,8 %. Menurut percobaan-percobaan pemberantasan gulma pada padi terdapat penurunan oleh persaingan gulma tersebut antara 25-50 %.
            Kehadiran gulma pada lahan pertanian atau pada lahan perkebunan dapat menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang ditimbulkan gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah sebagai berikut.
1. Terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya) dalam hal: penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam tanah, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh.
2. Sebagian besar tumbuhan gulma dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat toksin (racun), berupa senyawa kimia yang dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah allelopati.
3. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya.
4. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan.
5.Dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya dengan tercampurnya biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya.

II. PENGGOLONGAN/ KLASIFIKASI GULMA

  1. Sifat-sifat Gulma secara umum
           
Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai sifat dan ciri khas tertentu, yang umumnya berbeda dengan tanaman pokok atau tanaman budidaya. Sifat-sifat dari gulma tersebut antara lain:
1.      Gulma mudah tumbuh pada setiap tempat atau daerah yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai tempat yang kaya nutrisi.
2.      Gulma dapat bertahan hidup dan tumbuh pada daerah kering sampai daerah yang lembab bahkan tergenangpun masih dapat bertahan.
3.      Kemampuan gulma untuk mengadakan regenerasi atau perkembangbiakan memperbanyak diri besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial (gulma yang hidupnya menahun) dapat pula menyebar luas dengan cara perkembangbiakan vegetatif disamping secara generatif.
4.   Gulma juga dapat menghasilkan biji dalam jumlah yang sangat banyak, ini pulalah yang memungkinkan gulma cepat berkembang biak.
Luasnya penyebaran gulma disebabkan oleh sifat daun yang dapat bermodifikasi, yaitu tumbuh menjadi tumbuhan baru seperti pada daun Cocor bebek (Calanchoe sp). Demikian juga dengan bagian-bagian tumbuhan gulma yang lain dapat pula tumbuh menjadi individu gulma yang baru, seperti akar, batang, umbi dan lain sebagainya. Inilah yang memungkinkan gulma unggul dalam persaingan (berkompetisi) dengan tanaman budidaya
            Dalam berkompetisi dengan tanaman budidaya tumbuhan gulma juga ada yang mengeluarkan bau dan rasa yang kurang sedap, bahkan dapat mengeluarkan zat pada sekitar tempat tumbuhnya. Zat itu berbentuk senyawa kimia seperti cairan berupa toksin (racun) yang dapat mengganggu atau menghambat pertumbuhan tanaman lain yang ada disekitar gulma tersebut, (kejadian tersebut dikenal juga dengan peristiwa allelopati).
   Gulma dapat dibedakan menjadi beberapa golongan atau kelompok berdasarkan kepada: bentuk daun, daerah tempat hidup (habitat), daur atau siklus hidup, sifat botani dan morfologi, dan cara perkembangbiakan.

1.      Penggolongan berdasarkan bentuk daun
     Penggolongan berdasarkan bentuk daun ini berpatokan atas lebar atau sempitnya daun. Gulma berdaun lebar yaitu apabila lebar dari helaian daunnya lebih dari setengah ukuran panjangnya. Helaian daun tersebut dapat berbentuk oval, bulat, segita, lonjong, membulat atau seperti bentuk ginjal. Pertulangan daun (nervatio) dari golongan ini umumnya bentuk menyirip. Golongan gulma berdaun lebar ini umumnya didominasi oleh kelompok tumbuhan dari klas Dicotyledoneae.
     Sedangkan gulma berdaun sempit yaitu apabila helaian daun atau laminanya berbentuk memanjang dan ukuran lebarnya helaian daun kecil atau sempit. Helaian daun dari golongan ini umumnya terdiri dari kelampok daun yang berbentuk pita, linearis, jarum dan yang berbentuk panjang-panjang. Pertulangan daun dari golongan ini umumnya berbentuk lurus-lurus atau linearis yang umumnya didominasi oleh kelompok tumbuhan dari klas Monocotyledoneae.
     Dengan demikian berdasarkan bentuk daun ini maka gulma dapat dibagi dua yaitu gulma berdaun lebar dan gulma berdaun sempit.
a.    Gulma berdaun lebar
Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun yang lebar dan luas dan umumnya:
-       mempunyai lintasan C3(tumbuh dengan baik di area dimana intensitas sinar matahari cenderung sedang, temperature sedang dan dengan konsentrasi CO2 sekitar 200 ppm atau lebih tinggi, dan juga dengan air tanah yang berlimpah.)
-       nervatio (pertulangan daun) menyirip
-       dari kelompok Dicotyledoneae
-       bentuk helaian membulat, bulat, oval, lonjong, segitiga, bentuk ginjal, dll.
Contoh:
- Amaranthus spinosus L. ( Bayam Ri )
- Ageratum conyzoides (bandotan / Wedusan )
- Portulaca oleracea ( Krokot )
- Melastoma malabathricum ( Senggani, Sesenduk )
- Eupatorium odoratum ( Glepangan , Kirinyuh , Katepos )
- Euphorbia hirta ( Patikan Kebo )
- Centella asiatica ( Kaki Kuda, Pegagan  )

b. Gulma berdaun sempit
Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun sempit dan memanjang;
- mempunyai lintasan C4 ( Jenis Tanaman yang mampu beradaptasi pada berbagai suhu tinggi, kelembaban rendah dan sinar terik matahari)
- nervatio (pertulangan daun) linearis atau garis-garis memanjang.
- dari kelompok monocotyledoneae
- bentuk daun memanjang seperti pita, jarum, garis dll
contoh:
- Leersea hexandra ( Kalamenta, Kolomento )
- Sprobolus poiretii (
- Cyperus rotundus ( Rumput Teki )
- Imperata cylindrical ( Alang-Alang )

2. Penggolongan gulma berdasarkan habitat
Berdasarkan habitat atau tempat hidup maka gulma dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan yaitu:
1.  Gulma darat (terristerial weed) yaitu semua tumbuhan gulma yang hidup dan tumbuhnya di darat, seperti: Imperata cylindrical, Melastoma malabathricum, dsb. Pada gulma darat ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan lahan atau arealnya seperti:
2. Gulma sawah tanaman palawija, contoh:      - Portulaca oleracea
                                                                                    - Cyperus rotundus, dll
3. Gulma ladang, contoh:          - Leersea hexandra
                                                            - Imperata cylindrical
4. Gulma kebun, contoh:           - Ageratum conyzoides
                                                            - Stachytarpita sp
5. Gulma hutan, contoh:            - Melastoma malabathricum
                                                            - Crotalaria sp
6. Gulma Padang rumput, contoh:        - Sprobolus poiretii
                                                                        - Andropogon sp
7. Gulma air yaitu semua tumbuhan gulma yang hidup, tumbuh dan berkembang biaknya terjadi di dalam air, di daerah perairan atau ditempat yang basah dan tergenang, Contoh dari gulma ini adalah: Eichornia crassipes, Hydrilla verticilata, Pistia stratiotes, Nymphaea sp.

3. Penggolongan berdasarkan daur hidup
Menurut Ashton (1991), berdasarkan daur hidup (siklus hidup), maka gulma dapat dikelompokkan pada beberapa golongan yaitu.

1.    Annual (semusim)
Adalah tumbuhan gulma yang mempunyai daur hidup hanya satu musim atau satu
tahunan, mulai dari tumbuh, anakan, dewasa dan berkembang biak. Contoh gulma semusim adalah: Ageratum conyzoides, Stachytarpita sp.
2.    Biennial (dua musim)
Yaitu tumbuhan gulma yang mempunyai daur hidup mulai dari tumbuh
,anakan,dewasa dan berkembang biak selama dua musim tetapi kurang dari dua tahun. Contoh gulma ini adalah: Lactuca canadensis L.
3.    Perinnial (gulma musiman atau tahunan)
Adalah tumbuhan gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau lama berkelanjutan bila kondisi memungkinkan. Contoh gulma ini adalah kebanyakan dari klas monocotyledoneae seperti; Cyperus rotundus, Imperata cylindrical, dll

4. Penggolongan berdasarkan sifat morfologi
Menurut Tjitrosoedirdjo et. al (1984), berdasarkan sifat morfologi maka gulma dapat dikelomp;okkan menjadi tiga golongan yaitu:
1. Golongan rumput-rumptan (grasses)
Yaitu semua tumbuhan gulma yang berasal dari keluarga Gramineae (Poaceae). Gulma ini ukurannya bervariasi, tumbuh bisa tegak maupun menjalar , hidup semusim atau tahunan. Ciri-ciri kelompok gulma yang tergolong kedalam keluarga rumput ini adalah batangnya umumnya mempunyai ruas-ruas dan buku. Jarak masing-masing ruas (internodus) bisa sama dan bisa pula berbeda dan bahkan ada yang cukup panjang, yang tidak sebanding dengan buku (internodus), batangnya ini ada yang menyebut dengan culm. Ciri lain dari kelompok ini adalah daunnya yang tidak mempunyai tangkai daun (ptiolus) tapi hanya mempunya pelepah/ upih (vagina) dan helaian daun (lamina).
Contoh dari gulma ini banyak sekali dan ditemukan pada berbagai tempat, baik di areal tanaman budidaya maupun di daerah yang terbuka, misalnya; Eleusine indica, Imperata cylindrical, Panicum repens, Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, Leersea hexandra.
2.    Golongan Teki-tekian (sedges)
Yang termasuk kedalam kelompok gulma ini adalah dari keluarga Cyperaceae. Ciri khas dari kelompok teki ini adalah batangnya yang berbentuk segitiga, dan pada sebagian besar sistim perakarannya terdiri dari akar rimpang (rhizome) dan umbi (tuber).
Contoh gulma ini adalah; Cyperus rotundus, Cyperus irinaria, dll.

3.    Golongan gulma berdaun lebar (broad leaf weed)
Kelompok ini terdiri dari gulma yang berdaun lebar (luas) yang umumnya terdiri dari klas Dicotyledoneae, pertulangan daun umunya menyirip, misalnya: Ageratum conyzoides, Eupatorium odoratum, Melastoma malabathricum, Phylanthus niruri, dll.

5. Penggolongan berdasarkan sifat botani

Menurut Triharso (1994), berdasarkan sifat-sifat botaninya maka gulma dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan yaitu:
1.    Golongan gulma Dicotyledoneae (berkeping dua)
Yaitu semua tumbuhan gulma yang berasal dari klas Dikotiledon, seperti: Crotalaria sp, Melastoma malabathricum, Phyllanthus niruri, Lantana camara, dll.
2.    Golongan gulma Monocotyledoneae (berkeping satu)
Adalah semua tumbuhan gulma yang berasal dari klas Monokotil seperti: Imperata cylindrical, Panicum repens, Dactyloptenium sp., Eragrostis amabilis, Cynodon dactylon, cyperus rotundus, dll.
3.    Golongan gulma Pteridophyta (pakis-pakisan)
Yaitu semua gulma yang berasal dari kelompok pakis-pakisan, contohnya : Neprolepsis bisserata.


III. PERKEMBANGBIAKAN GULMA
           
            Gulma merupakan tumbuhan yang sangat mudah tumbuh pada bermaca-macam areal dan lokasi tanaman budidaya, hal itu yang menyebabkan gulma lebih unggul bersaing dengan tanaman budidaya. Faktor tersebut didukung pula oleh cara perkembangbiakan (reproduksi) gulma yang bermacam-macam seperti berikut.
1. Dengan biji
Sebagian besar gulma berkembangbiak dengan biji dan menghasilkan jumlah biji yang sangat banyak seperti biji pada Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, Eragrostis amabilis.
Biji-biji gulma dapat tersebar jauh karena ukurannya kecil sehingga dapat terbawa angin, air, hewan dan sebagainya dengan demikian penyebarannya juga lebih luas. Adapula terdapat bulu-bulu (rambut halus) yang menempel pada biji, sehingga biji ini mudah diterbangkan oleh angina, seperti pada biji Emilia sonchifolia, Vernonia sp, dll.
Disamping itu biji-biji gulma dapat bertahan lama di dalam tanah (masa dormansi yang panjang) bila situasi lahan tanahnya tidak memungkinkan untuk tumbuh, kemudian pada saatnya dapat tumbuh bila situasi sudah memungkinkan.

2. Stolon
Adapula gulma yang dapat membentuk individu baru dengan stolon yaitu bagian batang menyerupai akar yang menjalar di atas permukaan tanah. Dimana batang ini terdiri dari nodus (buku) dan internodus (ruas), pada setiap nodus dapat keluar serabut-serabut akar dan tunas sehingga dapat mebentuk individu baru. Contoh gulma ini adalah: Paspalum conjugatum, Cynodon dactylon, dll.

3.    Rhizome (akar rimpang)
Yaitu batang beserta bagian-bagiannya yang manjalar di dalam tanah, bercabang-cabang, tumbuh mendatar dan pada ujungnya atau pada buku dapat muncul tunas yang membentuk individu baru.

4. Tuber (umbi)
Umbi merupakan pembengkakan dari batang atupun akar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan atau penimbun makanan cadangan, sehingga umbi tersebut bisa membesar. Pada beberapa bagian dari umbi tersebut terdapat titik (mata) yang pada saatnya nanti bisa muncul atau keluar tunas yang merupakan individu baru dari gulma tersebut. Contoh gulma ini adalah dari keluarga Cyperaceae, seperti: Cyperus rotundus, Cyperus irinaria, dst.

5. Bulbus (umbi lapis)
Bulbus juga termasuk umbi yang merupakan tempat menyimpan makanan cadangan tetapi bentuknya berlapis-lapis. Gulma golongan ini dapat ditemukan pada keluarga Allium, contoh: Allium veneale (bawang-bawang).
6. Dengan daun
Pada beberapa jenis gulma juga dapat berkembangbiak dengan daunnya yang telah dewasa. Daun ini berbentuk membulat ataupun oval, pada pinggir daun bergerigi atau terdapat lekukan yang nantinya tempat muncul tunas menjadi individu baru. Contohnya: Calanchoe sp (cocor bebek), Ranunculus bulbasus.

7. Runner (Sulur)
Stolon yang keluar dari ketiak daun dimana internodianya (ruas) sangat panjang, membentuk tunas pada bagian ujung. Contoh: Eichornia crassipes.

8. Spora.
Ada juga beberapa gulma yang dapat berkembang biak dengan spora, dimana spora ini bila telah matang dapat diterbangkan oleh angina. Contoh gulma ini kebanyakan dari keluarga paku-pakuan seperti: Nephrolepsis bisserata, Lygopodiu sp, dll.

IV. PENGENDALIAN

     Terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di lapangan, yaitu :

1. Pengendalian dengan upaya preventif
Tindakan  paling  dini  dalam upaya menghindari  kerugian  akibat  infestasi gulma adalah pencegahan (preventif).  Pencegahan dimaksud untuk mengurangi pertumbuhan  gulma  agar  usaha  pengendalian  sedapat  mungkin  dikurangi. Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat  karena kerugian yang  sebenarnya  pada  tanaman  belum terjadi,  dan pencegahan  biasanya  lebih murah. Pengendalian dengan preventif dibagi menjadi :
·         Peniadaan Sumber Invasi dan Sanitasi
·         Perlunya Peraturan / Perundang-Undangan
·         Karantina Tumbuhan

2.    Pengendalian secara mekanis / fisik
pengendalian  mekanis  merupakan  usaha  penekanan  pertumbuhan  gulma dengan  cara  merusak  bagian-bagian  sehingga  gulma  tersebut  mati  atau pertumbuhannya  terhambat.   Cara  ini  umumnya  cukup  baik  dilakukan  pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulmagulma tahunan. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara :
·         Pengolahan Tanah (land preparation)
·         Penyiangan (wedding)
·         Pencabutan (hand pulling)
·         Pembabatan (mowing)
·         Pembakaran (burning)
·         Penggenangan
·         Peralatan Pengendalian Mekanis

3.    Pengendalian Kultur Teknis

pengendalian  kultur  teknis  merupakan  cara  pengendalian  gulma  dengan menggunakan praktek-praktek budidaya. Penanamn jenis yang cocok untuk suatu tanah,  penenamn  rapat  agar  tajuk  tanaman  segera  menutup  ruang  kosong, pemupukan  yangtepat,  dan  pengaturan  waktu  tanam adalah  cara  yang  sangat membantu untuk mengtasi masalah gulma.
Pengendalian  ini  disebut  juga  pengendalian  secara  ekologis  karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi untuk mengelola lingkungan. Pengendalian ini dilakukan dengan cara :
·         Rotasi Tanaman (crop rotation)
·         Sistem Bertanam (croping system)
·         Pengaturan Jarak Tanam (crop desinty)
·         Pemulsaan (mulching)
·         Tanaman Penutup Tanah (legum cover crop-lcc)

4. Pengendalian Hayati

pengendalian hayati  (Smith 1919) dengan arti  sempit  sebagi  penggunaan musuh alami baik yang diintroduksikan maupun yang sudah ada di suatu daerah kemudian dikelola agar penekanan terhadap populasi organisme pengganggu yang menjadi sasaran meningkat.
Pengendalian  pada  gulma  adalah  suatu  cara  pengendalian  dengan menggunakan  musuh- musuh  alami  baik  hama  (insekta),  penyakit  (patogen), ternak  ikan,  dsb  guna  menekan  pertumbuhan  gulma.  Cara-cara  pengendalian hayati :
·         Pengendalian Alami dan Hayati
·         Landasan Pengendalian Hayati
·         Musuh-Musuh Alami Gulma
·         Pengembangan pengendalian Hayati

5. Pengendalian Kimia

Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia sangat diminati, senyawa  kimia  yang  diguankan  dikenal  denga  nama  Herbisida.  Herbisida merupakan  alat  yang  canggih  dalam pengendalian  gulma,  serta  memberikan keuntungan lebih dalam pemakaiannya.



V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

a. Gulma  dapat  didefinisikan  sebagai  tumbuhan  yang  tidak  diinginkan manusia dan  tumbuh pada temapat  dan waktu yang tidak diinginkan manusia.
b. Untuk menghindari pertumbuhan gulma maka perlu dilakukan tindakan pencegahan (preventive) dengan cara tidak terlalu banyak menggunakan pupuk  kandang  atau  jangan  menggunakan  pupuk  kandang  pada  saat penanaman.
c. Pengendalian  gulma  harus  memperhatikan  teknik  pelaksanaannya  di lapangan (faktor teknis), biaya yang diperlukan (faktor ekonomis), dan kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan.
d. Hubungan  gulma  dengan  tanaman  lain  dapat  berupa  kompetisi  yang dapat  diartikan  sebagai  persaingan  dua  organisme  atau  lebih  dalam meraih makanan dan tempat  hidup yang sama,  seperti  unsur hara,  air, cahaya, bahan ruang tumbuh, dan CO2.
e. Cara  perkembangan  gulma  ada  cara  yaitu  dengan  cara  perbanyakan generatif dan vegetatif.

2. Saran

a. Penyiangan  gulma  sebaiknya  dilakukan  secara  teratur  sehingga  tidak mengganggu pertumbuhan tanaman yang memang diinginkan.
b. Kendalikan  gulma  dengan  metode-metode  yang  ada  sesuai  dengan keadaan atau sifat dari gulma itu.



DAFTAR PUSTAKA

1.        Astuti  Siti,  2006.  Petunjuk  Praktikum  Dasar-Dasar  Perlindungan  Tanaman.STPP Jurusan Penyuluhan Pertanian, Yogyakarta.
2.        Moenandir,  J.   1986.   Konsep Pengendalian  Gulma.Balitus:  Intercreated  Pest Management.
3.        Moenandar,  Jody.  1993.  Pengantar  Ilmu dan Pengendalian Gulma.  Jakarta: Rajawali Pers.
4.        Sukman, Yernelis.  2002.  Gulma dan teknik pengendaliannya.  Jakarta:  Rajawali Pers.
5.        Triharso. 1994. Dasar-dasar perlindungan tanaman. Yogyakarta: UGM

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar